Bulan Syawal merupakan bulan setelah bulan Ramadhan. Di dalam Bulan Ramadhan, umat islam berpuasa sebulan penuh. Namun sayangnya di penghujung ramadhan banyak kaum muslim kendur dalam beribadah. Banyak umat muslim yang memikirkan lebaran di bulan Syawal.
Tradisi lebaran di bualn syawal tak ada salahnya. Namun perlu diingat seharusnya di bulan syawal ada peningkatan ibadah atau paling tidak kualitas ibadahnya sama seperti di bulan ramadhan. Kenyataan di masyarakat muslim di Indonesia tidak memperhatikan ibadah di bulan Syawal.
Di Bulan Syawal, umat mulim Indonesaia cenderung ibadahnya menurun. Hal ini terbukti, saat shalat subuh tanggal 1 Syawal. Jamaah shalat subuh mulai seperti sebelum ramadhan. Jamaah shalat subuh sedikit, berkurang secara drastis jika dibandingakan dengan shalat subuh di ramadhan. Ayo umat Islam Indonesia, kembali lagi meramaikan masjid dengan shalat dan kegiatan ibadah yang lain.
Menata hati perbaiki diri, media dakwah Islam, mengenal lebih dekat tentang Islam
Tampilkan postingan dengan label Ramadhan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ramadhan. Tampilkan semua postingan
Rabu, 06 Agustus 2014
Jumat, 14 September 2012
Meningkatkan Amal Ibadah Bulan Syawal
Bulan Ramadhan telah kita lalui bersama, sekarang memasuki bulan Syawal. Umumnya kualitas ibadah masyarakat muslim menurun. Syawal memiliki makna peningkatan, untuk itu usahakan tetap istiqhomah beribadah di bulan ini. 1 bulan ramadhan yang lalu, kita digembleng dengan rangkaian ibadah ramadhan. Bulan syawal kita perlu tingkatkan srmua amal ibadah dibulan ramadhan.
Amal ibadah di bulan ramadhan yang dilakukan harian, hendaknya tetap istiqomah dilakukan di ibadah harian di bulan Syawal. Di Ramadhan kita melakukan puasa setiap hari, harusnya di bulan syawal & bulan lain tetap melaksanakan puasa sunah. Diantara puasa sunah yang dapat dilakukan di bulan Syawal adalah puasa 6 hari di bulan syawal, puasa 3 hari di bulan yang lain, puasa daud, puasa senin kamis.
Amalan ibadah yang tetap harus istiqomah di bulan selain ramadhan adalah kiyamul lail shalat malam, shalat tahajud & shalat witir. Bacaaan al-qur'an yang setiap hari dibaca di bulan ramadhan harusnya al-qur'an dibaca juga luar ramadhan. Semua amal ibadah di bulan ramadhan harus tetap dilakukan di bulan yang lain agar kita menjadi orang bertakwa.
Amal ibadah di bulan ramadhan yang dilakukan harian, hendaknya tetap istiqomah dilakukan di ibadah harian di bulan Syawal. Di Ramadhan kita melakukan puasa setiap hari, harusnya di bulan syawal & bulan lain tetap melaksanakan puasa sunah. Diantara puasa sunah yang dapat dilakukan di bulan Syawal adalah puasa 6 hari di bulan syawal, puasa 3 hari di bulan yang lain, puasa daud, puasa senin kamis.
Amalan ibadah yang tetap harus istiqomah di bulan selain ramadhan adalah kiyamul lail shalat malam, shalat tahajud & shalat witir. Bacaaan al-qur'an yang setiap hari dibaca di bulan ramadhan harusnya al-qur'an dibaca juga luar ramadhan. Semua amal ibadah di bulan ramadhan harus tetap dilakukan di bulan yang lain agar kita menjadi orang bertakwa.
Jumat, 20 Juli 2012
Fenomena Rukyat Melihat Hilal di Indonesia
Fenomena rukyat atau melihat Bulan baru dengan mata langsung di Indonesia selalu mengalami kontroversi. Melihat Hilal untuk menentukan Awal 1 Ramadhan ataupun melihat Hilal untuk menentukan 1 Syawal. Pada hari Kamis petang (19/7/2012) Tim rukyatul-hilal di Cakung dan di Cilincing yang biasa dari tahun ke tahun memantau hilal dikabarkan sudah melihat hilal. Di Cakung hilal terlihat sekitar 3,5 derajat dan di Cilincing dengan posisi 4 derajat.
Jika kita kembalikan ke zaman Rasulullah tentakng melihat Hilal, banyak keanehan & keganjilan yang terjadi di Indonesia. Sesungguhnya di zaman Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, jika sudah ada seseorang yang berhasil melihat hilal. Maka "Nabi tak bertanya berapa derajatnya". Sementara pemerintah RI melalui Kementerian Agama menentukan "harus di atas 2 derajat".
Keadaannya, alhamdulillah, di Cakung Jakarta Timur, dan Cilincing Jakarta Utara, tim rukyat di sana sudah berhasil melihat hilal masing-masing dengan posisi 3,5 dan 4 derajat. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, tatkala sudah ada yang menyatakan melihat hilal, langsung memerintahkan besoknya untuk melaksanakan shaum Ramadhan (1 Ramadhan) atau mengakhiri Ramadhan atau besoknya ber-idul fitri (1 Syawal). Jika diyakini hilal dalam posisi di bawah 2 derajat yang berarti itu tak diakui pemerintah (karena kurang dari 2 derajat tak terlihat), kenapa harus repot-repot melihat hilal dan bersidang itsbat?
Di Cakung dan Cilincing, mereka yang melihat hilal sudah disumpah oleh Kementerian Agama setempat, dan hasilnya dikirim ke Kementerian Agama yang sedang melakukan sidang itsbat. Jika pemerintah (Kementerian Agama) melalui sidang itsbat ini tak mengakui kesaksian Tim Cakung dan Cilincing, maka itu berarti kembali mengulangi kefatalan yang sama saat penentuan 1 Syawal (idul fitri) tahun lalu, dimana pemerintah (Kementerian Agama dan MUI) dalam sidang itsbat menolak kesaksian Tim Cakung yang sudah melihat hilal.
Padahal Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam saat seseorang datang kepada beliau, melapor sudah melihat hilal, tak pernah beliau menolak. Bahkan Rasulullah, setelah mengambil sumpah atas dasar kesaksian orang yang bersangkutan, langsung memerintahkan kaum Muslimin kala itu untuk melaksanakan shaum esoknya atau berbuka dan menetapkan 1 Syawal (idul fitri) keesokan harinya.
Seharusnya, jika sudah ada pihak yang melihat hilal, maka esok, Jumat (20 Juli 2012) adalah awal Ramadhan, ibadah shaum dimulai. Padahal di sidang itsbat yang digelar Kemenag Pusat, wakil dari Front Pembela Islam (FPI) dan Wakil Ormas Islam An-Najah melaporkan Tim Cakung Jakarta Timur yang telah berhasil melihat hilal dengan posisi 3,5 – 4 derajat dan terlihat selama 4 menit.
Dalam Contoh yang di ajarkan Rasulullah, siapapun yang melihat hilal, maka setelah disumpah kesaksiannya, yang lain tinggal mengikuti. Jadi, bukan banyak mana yang melihat dan yang tidak, misalnya, lalu diputuskan mengukuti yang banyak yang tak melihat, bukan begitu caranya, bukan seperti sistem demokrasi yang memilih pemimpin berdasarkan suara terbanyak. Bukan.
Jangan pula lantaran demi persatuan, demi persatuan, kemudian mereka yang berbeda dengan keputusan Menag di sidang itsbat, seakan tidak menjunjung persatuan. Jangan sampai, karena demi persatuan, lantas mengenyampingkan tuntunan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam.
Seorang tokoh MUI daerah prihatin dengan pola sidang itsbat yang digelar Kemenag Kamis malam (19/7/2012). Menurutnya, tak sama awal Ramadhan atau 1 Syawal bukan berarti simbol perbedaan. Dalam kasus ini penduduk Madinah pernah tak sama dengan Mu'awiyah di Syam saat menjadi khalifah. Para sahabat yang ada di Madinah ditanya, "Alam taktafii biru'yati Mu'awiyah? (Apakah rukyah Mu'awiyah tak cukup?" Mereka bilang, "Tidak." (Jadi, itu artinya, tak ada kewajiban ikut pemerintah dalam hal ini).
"Bayangkan, itu seorang khalifah, dan Mu'awiyah sangat faqih, bukannya pemerintah yang tak jelas, penuh korup," ujarnya. "Apalagi, ini (hilal) sudah ada yang lihat. Berdosa saja pemerintah mengabaikan hal itu," imbuhnya.
Dalam sidang itsbat ini, jelas, memang tampak janggal. Janggalnya, 2 ormas Islam yang melaporkan Tim Cakung dan Cilincing telah melihat hilal, dengan posisi 3,5 dan 4 derajat selama kurang lebih 4 menit, sama sekali tak disinggung atau direspon oleh Menteri Agama.
Menteri Agama menutup sidang dan menetapkan awal Ramadhan jatuh pada hari Sabtu tanggal 21 Juli 2012. Sama sekali mengabaikan Tim yang sudah melihat hilal. Malah wakil dari NU menyepelekan mereka yang sudah melihat hilal dan mempertanyakan kenapa ada dari hakim pengadilan agama setempat yang berani mengambil sumpah.
Bagaimana ini bisa terjadi di dalam sidang itsbat yang terhormat itu? Rasulullah saja, meskipun yang mengaku melihat hilal adalah "seorang badui", tapi dengan bijak dan seksama mendengar dan merespon, lalu menerima dan memutuskan untuk shaum atau beridul fitri esoknya.
Karenanya, jika pemerintah (Kementerian Agama) menolak kesaksian Tim yang sudah jelas-jelas melihat hilal–dan disumpah pula oleh Hakim Pengadilan Agama Kementerian Agama setempat–apakah artinya Kementerian Agama dan sidang itsbat yang dipimpin oleh Menteri Agama itu lebih hebat dari Nabi?
sumber: salam-online.com/arrahmah.com.
Jika kita kembalikan ke zaman Rasulullah tentakng melihat Hilal, banyak keanehan & keganjilan yang terjadi di Indonesia. Sesungguhnya di zaman Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, jika sudah ada seseorang yang berhasil melihat hilal. Maka "Nabi tak bertanya berapa derajatnya". Sementara pemerintah RI melalui Kementerian Agama menentukan "harus di atas 2 derajat".
Keadaannya, alhamdulillah, di Cakung Jakarta Timur, dan Cilincing Jakarta Utara, tim rukyat di sana sudah berhasil melihat hilal masing-masing dengan posisi 3,5 dan 4 derajat. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, tatkala sudah ada yang menyatakan melihat hilal, langsung memerintahkan besoknya untuk melaksanakan shaum Ramadhan (1 Ramadhan) atau mengakhiri Ramadhan atau besoknya ber-idul fitri (1 Syawal). Jika diyakini hilal dalam posisi di bawah 2 derajat yang berarti itu tak diakui pemerintah (karena kurang dari 2 derajat tak terlihat), kenapa harus repot-repot melihat hilal dan bersidang itsbat?
Di Cakung dan Cilincing, mereka yang melihat hilal sudah disumpah oleh Kementerian Agama setempat, dan hasilnya dikirim ke Kementerian Agama yang sedang melakukan sidang itsbat. Jika pemerintah (Kementerian Agama) melalui sidang itsbat ini tak mengakui kesaksian Tim Cakung dan Cilincing, maka itu berarti kembali mengulangi kefatalan yang sama saat penentuan 1 Syawal (idul fitri) tahun lalu, dimana pemerintah (Kementerian Agama dan MUI) dalam sidang itsbat menolak kesaksian Tim Cakung yang sudah melihat hilal.
Padahal Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam saat seseorang datang kepada beliau, melapor sudah melihat hilal, tak pernah beliau menolak. Bahkan Rasulullah, setelah mengambil sumpah atas dasar kesaksian orang yang bersangkutan, langsung memerintahkan kaum Muslimin kala itu untuk melaksanakan shaum esoknya atau berbuka dan menetapkan 1 Syawal (idul fitri) keesokan harinya.
Seharusnya, jika sudah ada pihak yang melihat hilal, maka esok, Jumat (20 Juli 2012) adalah awal Ramadhan, ibadah shaum dimulai. Padahal di sidang itsbat yang digelar Kemenag Pusat, wakil dari Front Pembela Islam (FPI) dan Wakil Ormas Islam An-Najah melaporkan Tim Cakung Jakarta Timur yang telah berhasil melihat hilal dengan posisi 3,5 – 4 derajat dan terlihat selama 4 menit.
Dalam Contoh yang di ajarkan Rasulullah, siapapun yang melihat hilal, maka setelah disumpah kesaksiannya, yang lain tinggal mengikuti. Jadi, bukan banyak mana yang melihat dan yang tidak, misalnya, lalu diputuskan mengukuti yang banyak yang tak melihat, bukan begitu caranya, bukan seperti sistem demokrasi yang memilih pemimpin berdasarkan suara terbanyak. Bukan.
Jangan pula lantaran demi persatuan, demi persatuan, kemudian mereka yang berbeda dengan keputusan Menag di sidang itsbat, seakan tidak menjunjung persatuan. Jangan sampai, karena demi persatuan, lantas mengenyampingkan tuntunan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam.
Seorang tokoh MUI daerah prihatin dengan pola sidang itsbat yang digelar Kemenag Kamis malam (19/7/2012). Menurutnya, tak sama awal Ramadhan atau 1 Syawal bukan berarti simbol perbedaan. Dalam kasus ini penduduk Madinah pernah tak sama dengan Mu'awiyah di Syam saat menjadi khalifah. Para sahabat yang ada di Madinah ditanya, "Alam taktafii biru'yati Mu'awiyah? (Apakah rukyah Mu'awiyah tak cukup?" Mereka bilang, "Tidak." (Jadi, itu artinya, tak ada kewajiban ikut pemerintah dalam hal ini).
"Bayangkan, itu seorang khalifah, dan Mu'awiyah sangat faqih, bukannya pemerintah yang tak jelas, penuh korup," ujarnya. "Apalagi, ini (hilal) sudah ada yang lihat. Berdosa saja pemerintah mengabaikan hal itu," imbuhnya.
Dalam sidang itsbat ini, jelas, memang tampak janggal. Janggalnya, 2 ormas Islam yang melaporkan Tim Cakung dan Cilincing telah melihat hilal, dengan posisi 3,5 dan 4 derajat selama kurang lebih 4 menit, sama sekali tak disinggung atau direspon oleh Menteri Agama.
Menteri Agama menutup sidang dan menetapkan awal Ramadhan jatuh pada hari Sabtu tanggal 21 Juli 2012. Sama sekali mengabaikan Tim yang sudah melihat hilal. Malah wakil dari NU menyepelekan mereka yang sudah melihat hilal dan mempertanyakan kenapa ada dari hakim pengadilan agama setempat yang berani mengambil sumpah.
Bagaimana ini bisa terjadi di dalam sidang itsbat yang terhormat itu? Rasulullah saja, meskipun yang mengaku melihat hilal adalah "seorang badui", tapi dengan bijak dan seksama mendengar dan merespon, lalu menerima dan memutuskan untuk shaum atau beridul fitri esoknya.
Karenanya, jika pemerintah (Kementerian Agama) menolak kesaksian Tim yang sudah jelas-jelas melihat hilal–dan disumpah pula oleh Hakim Pengadilan Agama Kementerian Agama setempat–apakah artinya Kementerian Agama dan sidang itsbat yang dipimpin oleh Menteri Agama itu lebih hebat dari Nabi?
sumber: salam-online.com/arrahmah.com.
Kamis, 28 Juni 2012
Puasa Sunah di Bulan Sya'ban
Bulan sya'ban merupakan salah satu bulan Haram di tahun Hijriyah. Bulan Sya'ban memiliki beberapa keistimewaan. Bulan Sya'ban adalah bulan terdekat sebelum memasuki bulan Puasa Ramadhan. Ada beberapa amal ibadah yang dicontohkan oleh Rasulullah. Bulan sebelum Sya'ban adalah bulan Rajab, tidak ada contoh amal ibadah di bulan Rajab. Dan Bulan setelah Sya'ban adalah bulan Ramadhan.
Dari pada anda puasa Rajab yang tak ada tuntunannya lebih baik puasa sunah di bulan Sya'ban. Banyak orang mengamalkan Puasa Sunah yang mengkhususkan di Bulan Rajab. Puasa khusus di bulan Rajab tidak ada Hadist yang menguatkannya sehingga tidak perlu dilakukan. Banyak Hadist Shahih yang menjelaskan Puasa Sunah di Bulan Sya'ban. Sedangkan bagaimanakah cara melaksanakan Puasa bulan Sya'ban ? Puasa bulan Sya'ban dilakukan selama 15 hari, mulai dari tanggal 1 Sya'ban sampai dengan tanggal 15 Sya'ban. Sedangkan puasa di akhir Sya'ban kita dilarang melakukannya karena dikawatirkan sudah memasuki bulan Ramadhan.
Dalam memasuki Bulan Sya'ban ini, Rasulullah Saw menganjurkan untuk berpuasa pada bulan Sya'ban, sebagaimana diisyaratkan pada hadist-hadist berikut ini:
Menurut Yahya bin Mu'adz, Manusia yg menghormati bulan Sya'ban dan mengisinya dengan amal kebajikan, maka akan mendapatkan Kemuliaan, kedudukan yg tinggi dan kebajikan yg berlipat nilainya disisi Allah, serta mendapatkan syafaat dari Rasulullah Saw. Selain itu mendapatkan sikap hidup yg lemah lembut.
Sebagian Ulama mengatakan bahwa Sya'aban merupakan bulan membersihakan hati, diharapkan pada bulan ini kita menghiasi hati ini dg amal kebajikan dan menjaganya dari perbuatan Maksiat yg dapat menggelapkan hati. Hal ini dapat dengan mudah dilanjuttkan pada bulan Ramadhan.
Sebagian Hukama (ahli hikmah) mengatakan bahwa bulan Sya'ban merupakan waktu untuk memperbaiki jiwa dari sifat-sifat tercela. Diharapkan bulan ini dimanfaatkan dg baik guna membersihkan jiwa dari kotoran dan kegelapan, berganti jiwa yg memancarkan kejernihan dan cahaya yg terang.Mengisi dg amal kebajikan adalah media yg pas, dan salah satunya yg dianjurkan adalah dg berpuasa sunnah, seperti jawaban Rasulullah ketika sahabat Usman bertanya (diatas).
Dari pada anda puasa Rajab yang tak ada tuntunannya lebih baik puasa sunah di bulan Sya'ban. Banyak orang mengamalkan Puasa Sunah yang mengkhususkan di Bulan Rajab. Puasa khusus di bulan Rajab tidak ada Hadist yang menguatkannya sehingga tidak perlu dilakukan. Banyak Hadist Shahih yang menjelaskan Puasa Sunah di Bulan Sya'ban. Sedangkan bagaimanakah cara melaksanakan Puasa bulan Sya'ban ? Puasa bulan Sya'ban dilakukan selama 15 hari, mulai dari tanggal 1 Sya'ban sampai dengan tanggal 15 Sya'ban. Sedangkan puasa di akhir Sya'ban kita dilarang melakukannya karena dikawatirkan sudah memasuki bulan Ramadhan.
Dalam memasuki Bulan Sya'ban ini, Rasulullah Saw menganjurkan untuk berpuasa pada bulan Sya'ban, sebagaimana diisyaratkan pada hadist-hadist berikut ini:
- Hadist Dari Aisyah ra, "Tidak kelihatan oleh saya Rasulullah Saw melakukan puasa dalam waktu sebulan penuh, kecuali pada bulan Ramadhan, dan tidak satu bulanpun yg hari-harinya lebih banyak dipuasakan Nabi daripada bulan Sya'ban" (HR Bukhari dan Muslim)
Menurut Yahya bin Mu'adz, Manusia yg menghormati bulan Sya'ban dan mengisinya dengan amal kebajikan, maka akan mendapatkan Kemuliaan, kedudukan yg tinggi dan kebajikan yg berlipat nilainya disisi Allah, serta mendapatkan syafaat dari Rasulullah Saw. Selain itu mendapatkan sikap hidup yg lemah lembut.
Sebagian Ulama mengatakan bahwa Sya'aban merupakan bulan membersihakan hati, diharapkan pada bulan ini kita menghiasi hati ini dg amal kebajikan dan menjaganya dari perbuatan Maksiat yg dapat menggelapkan hati. Hal ini dapat dengan mudah dilanjuttkan pada bulan Ramadhan.
Sebagian Hukama (ahli hikmah) mengatakan bahwa bulan Sya'ban merupakan waktu untuk memperbaiki jiwa dari sifat-sifat tercela. Diharapkan bulan ini dimanfaatkan dg baik guna membersihkan jiwa dari kotoran dan kegelapan, berganti jiwa yg memancarkan kejernihan dan cahaya yg terang.Mengisi dg amal kebajikan adalah media yg pas, dan salah satunya yg dianjurkan adalah dg berpuasa sunnah, seperti jawaban Rasulullah ketika sahabat Usman bertanya (diatas).
Rabu, 24 Agustus 2011
Hikmah puasa ramadhan sebagai bekal untuk 11 bulan yang lain
Sudahkah kita dapat mengambil "hikmah ramadhan" sebagai bekal untuk 11 bulan yang lain? Apakah kita hanya melalui ramadhan setip tahun begitu saja tanpa membekas di 11 bulan yang lain. Terlena sudah diri ini dalam hiruk pikuk dan gemerlap dunia yang menyebabkan kelalaian dan kerumitan dalam hidup manusia. Seolah manusia tanpa "tujuan" dan "bekal" dalam mengarungi kehidupan di dunia yang sementara ini. Banyak yang mengira dengan bekal harta dan pengalaman, manusia dapat menjalani hiddup dengan bahagia. Sudah pasti kebahagiaan semu seperti fatamorgana yang mereka dapatkan dalam menjalani hidup.
Untuk bekal perjalanan hidup seseorang dapat mempersiapkan bekal berupa makanan dan uang. Akan tetapi bukan itu sebagai bekal terbaik bagi manusia, sebaik-baik bekal dalam hidup ini adalah taqwa. Dengan bekal taqwa, hidup kita menjadi tenang dan selamat dunia dan akhirat. "Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa" Al-Qur'an surat Al-Baqarah ; 197.
Menurut Allah siapakah insan yang mulia? Di dunia ini, mereka yang tergolong sebagai insan mulia hanyalah yang bertaqwa. "Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu" Al-Qur'an surat Al-Hujarat ; 13.
Subhanallah, ternyata Allah begitu mudah membantu orang-orang yang bertaqwa. "Siapapun yang bertaqwa kepada Allah, niscay dia akan mengadakan baginya jalan ke luar dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya". Al-Qur'an surat Al-Thalaqq ; 2-3.
Maka, kita sebagai umat islam seharusnya berterimakasih pada Allah. Allah setiap tahun memberikan kesempatan kepada kita untuk menggapai taqwa lewat jalan puasa di bulan Ramadhan seperti yang terkandung di dalam Al-Qur'an surat Al-Baqarah ; 183. Untuk itu berpuasalah sesuai dengan perintah Allah dan sunah rasulullah agar puasa kita tidak sia-sia dan mendapatkan rido Allah. Dengan puasa dapat menjaga dan melatih kita dari perbuatan tidak bermanfaat. Seperti dalam hadist Rasulullah, "Bukanlah puasa itu sekedar menahan diri dari makan dan minum. Sesungguhnya puasa itu ialah mencegah diri dari segala perbuatan yang sia-sia atau tidak bermanfaat dan menjauhi perkataan kotor atau keji, wajiblah engkau berkata: Saya sedang berpuasa. saya sedang berpuasa!" (HR. Khuzaimah dan ibnu Hibban dari Abu Hurairah)
Jika kita telah melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadhan serta rangkaian ibadah sunah yang lain. Sudah selayaknya diri ini dapat melakukan muhasabah dan mengambil hikmah ramadhan sebagai bekal di 11 bulan yang lain. Jika perintah Allah dan petunjuk Rasulluh telah kita kerjakan maka mudah-mudahan kita termasuk di dalam kategori ini, "Siapapun yang berpuasa pada bulan Ramadhan karena keimanan dan mengharapkan keridhaan Allah, akan diampuni dosa-dosanya yang terdahulu" (HR. Ahmad dan Ash-Habus Sunan). Semoga di bulan suci Ramadhan ini kita senantiasa diberikan rahmat, taufiq dan hidayah oleh Allah SWT. Kita diberikan kemampuan untuk melaksanakannya dengan kesabaran dan penuh keikhlasan hanya mengharap ridho Allah sehingga kita dapat sukses meraih predikat "Taqwa" di sisi Allah.
Untuk bekal perjalanan hidup seseorang dapat mempersiapkan bekal berupa makanan dan uang. Akan tetapi bukan itu sebagai bekal terbaik bagi manusia, sebaik-baik bekal dalam hidup ini adalah taqwa. Dengan bekal taqwa, hidup kita menjadi tenang dan selamat dunia dan akhirat. "Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa" Al-Qur'an surat Al-Baqarah ; 197.
Menurut Allah siapakah insan yang mulia? Di dunia ini, mereka yang tergolong sebagai insan mulia hanyalah yang bertaqwa. "Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu" Al-Qur'an surat Al-Hujarat ; 13.
Subhanallah, ternyata Allah begitu mudah membantu orang-orang yang bertaqwa. "Siapapun yang bertaqwa kepada Allah, niscay dia akan mengadakan baginya jalan ke luar dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya". Al-Qur'an surat Al-Thalaqq ; 2-3.
Maka, kita sebagai umat islam seharusnya berterimakasih pada Allah. Allah setiap tahun memberikan kesempatan kepada kita untuk menggapai taqwa lewat jalan puasa di bulan Ramadhan seperti yang terkandung di dalam Al-Qur'an surat Al-Baqarah ; 183. Untuk itu berpuasalah sesuai dengan perintah Allah dan sunah rasulullah agar puasa kita tidak sia-sia dan mendapatkan rido Allah. Dengan puasa dapat menjaga dan melatih kita dari perbuatan tidak bermanfaat. Seperti dalam hadist Rasulullah, "Bukanlah puasa itu sekedar menahan diri dari makan dan minum. Sesungguhnya puasa itu ialah mencegah diri dari segala perbuatan yang sia-sia atau tidak bermanfaat dan menjauhi perkataan kotor atau keji, wajiblah engkau berkata: Saya sedang berpuasa. saya sedang berpuasa!" (HR. Khuzaimah dan ibnu Hibban dari Abu Hurairah)
Jika kita telah melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadhan serta rangkaian ibadah sunah yang lain. Sudah selayaknya diri ini dapat melakukan muhasabah dan mengambil hikmah ramadhan sebagai bekal di 11 bulan yang lain. Jika perintah Allah dan petunjuk Rasulluh telah kita kerjakan maka mudah-mudahan kita termasuk di dalam kategori ini, "Siapapun yang berpuasa pada bulan Ramadhan karena keimanan dan mengharapkan keridhaan Allah, akan diampuni dosa-dosanya yang terdahulu" (HR. Ahmad dan Ash-Habus Sunan). Semoga di bulan suci Ramadhan ini kita senantiasa diberikan rahmat, taufiq dan hidayah oleh Allah SWT. Kita diberikan kemampuan untuk melaksanakannya dengan kesabaran dan penuh keikhlasan hanya mengharap ridho Allah sehingga kita dapat sukses meraih predikat "Taqwa" di sisi Allah.
Selasa, 23 Agustus 2011
Amal ibadah di penghujung 10 hari terakhir di bulan Ramadhan
Amal ibadah puasa merupakan amal ibadah yang unik karena sifatnya transparant, tidak ada seorang manusiapun yang saling mengetahui apakah dia sedang berpuasa atau tidak. Hanya Allah sendiri yang mengetahhui apakah hambanya berpuasa atau tidak, serta berapa besar pahala yang didapat seseorang hanya Allah yang mengetahuinya. Manusia hanya dapat berlomba-lomba dalam amal ibadah terutama di penghujung 10 hari terakhir di bulan Ramadhan. Allah sendiri yang akan menilainya.
Di penghujung 10 hari terakhir di bulan Ramadhan, marilah kita perbanyak amal ibadah sunah serta memperbanyak do'a. Terutama memperbanyak do'a di sepertiga malam terakhir. Insya Allah tidak ada hijab do'a seorang hamba pada Allah, asalkan do'a yang baik. Hanya manusia yang sombong yang tidak mau memanfaatkan moment ini untuk berdo'a.
Berdo'a dapat dilakukakan dimana saja di bulan Ramadhan. Karena Allah menyuruh kita memperbanyak do'a di bulan Ramadhan. Diantara ayat 183 sampai dengan 187 di dalam Al-Qur'an surat Al-Baqarah, diantara ayat yang menjelaskan tentang puasa di bulan ramadhan. Ada ayat 186 yang menjelaskan tentang berdo'a. Surat Al-Baqarah ayat 186, yang artinya "Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran".
Untuk itulah! berdasarkan ayat diatas, marilah perbanyak berdo'a yang disertai iman dan taqwa pada Allah. Moment ramadhan ini dapat kita manfaatkan dengan banyak berdzikir dan berdo'a. Terutama sebagai amal ibadah pada malam ganjil di bulan Ramadhan. Dengan kita melakukan iktikaf di masjid. Iktikaf yang merupakan rangkian amal ibadah di Ramadhan. Iktikaf dengan cara berdiam diri di masjid dengan melakukan shalat, dzikir dan berdo'a. Iktikaf juga sebagai muhasabah yakni mengkoreksi diri sendiri sendiri untuk memperbaiki diri. Semoga di penghujung 10 hari terakhir di bulan Ramadhan, kita dapat memperbanyak amal ibadah. Semoga amal ibadah kita di bulan ramadhan di terima Allah.
Di penghujung 10 hari terakhir di bulan Ramadhan, marilah kita perbanyak amal ibadah sunah serta memperbanyak do'a. Terutama memperbanyak do'a di sepertiga malam terakhir. Insya Allah tidak ada hijab do'a seorang hamba pada Allah, asalkan do'a yang baik. Hanya manusia yang sombong yang tidak mau memanfaatkan moment ini untuk berdo'a.
Berdo'a dapat dilakukakan dimana saja di bulan Ramadhan. Karena Allah menyuruh kita memperbanyak do'a di bulan Ramadhan. Diantara ayat 183 sampai dengan 187 di dalam Al-Qur'an surat Al-Baqarah, diantara ayat yang menjelaskan tentang puasa di bulan ramadhan. Ada ayat 186 yang menjelaskan tentang berdo'a. Surat Al-Baqarah ayat 186, yang artinya "Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran".
Untuk itulah! berdasarkan ayat diatas, marilah perbanyak berdo'a yang disertai iman dan taqwa pada Allah. Moment ramadhan ini dapat kita manfaatkan dengan banyak berdzikir dan berdo'a. Terutama sebagai amal ibadah pada malam ganjil di bulan Ramadhan. Dengan kita melakukan iktikaf di masjid. Iktikaf yang merupakan rangkian amal ibadah di Ramadhan. Iktikaf dengan cara berdiam diri di masjid dengan melakukan shalat, dzikir dan berdo'a. Iktikaf juga sebagai muhasabah yakni mengkoreksi diri sendiri sendiri untuk memperbaiki diri. Semoga di penghujung 10 hari terakhir di bulan Ramadhan, kita dapat memperbanyak amal ibadah. Semoga amal ibadah kita di bulan ramadhan di terima Allah.
Senin, 22 Agustus 2011
Ramadhan sebagai bulan pendidikan / tarbiyah
Ramadhan itu seperti sebuah sekolah. Sekolah yang mendidik kita untuk menjadi insan yang berprediktat taqwa. Di dunia ini tak ada sekolah manapun yang dapat menandingi ramadhan yang dapat mencetak orang-orang dengan predikat taqwa. "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa". (QS. Al-baqarah ; 183)
Ayat diatas menjelaskan bahwa sekolah Ramadhan ini hanya dapat dimasuki oleh orang beriman saja. Dari landasan iman inilah kita dididik di bulan ramadhan. Didikan mengenai banyak hal, antara lain: bagaimana mengendalikan hawa nafsu, memupuk sikap sabar, menata diri untuk tak melakukan hal yang tak bermanfaat / hal yang sia-sia.
Di sekolah Ramadhan ini, kita juga diajarkan memahami bagaimana tidak enaknya lapar. Lapar yang merupakan sesuatu yang akrab dengan kalangan tak mampu dalam hal harta (fakir dan miskin). Dampak berlapar-lapar dalam puasa ini agar diri ini menyadari dampak langsung bagaimana kondisi orang lapar itu agar hati kita mudah tergerak untuk membantu sesama terutama orang miskin. Dengan cara inilah, kita diajarkan bagaimana indahnya berbagi itu. Kita diajarkan untuk menjadi insan yang suka berbuat kebajikan. "Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan" (QS. Al-Insan; 8).
Masih banyak lagi hikmah puasa Ramadhan. Keutamaan puasa ditinjauu dari segi kesehatan seperti dalam Hadist Rasulullah, "Berpuasalah agar kamu sehat". Namun jangan dijadikan alasan yang utama, menjadikan puasa untuk kesehatan fisik. Dengan dasar iman dan ikhlas kita berpuasa serta hanya mengharapkan ridha Allah dan pada saat yang sama berproses menuju sehat, Subhanallah! Jangan lupa mengisi ramadhan dengan amal ibadah pada Allah. Dengan memperbanyak shalat sunah, memperbanyak membaca Al-Qur'an, gemar sedekah, sebarkan salam dan kebaikan agar selepas ramadhan mendapatkan predikat bertaqwa.
Puasa ramadhan dapat memberikan kesehatan ruhani & jasmani. Dampak puasa bagi kesehatan antara lain:
Ayat diatas menjelaskan bahwa sekolah Ramadhan ini hanya dapat dimasuki oleh orang beriman saja. Dari landasan iman inilah kita dididik di bulan ramadhan. Didikan mengenai banyak hal, antara lain: bagaimana mengendalikan hawa nafsu, memupuk sikap sabar, menata diri untuk tak melakukan hal yang tak bermanfaat / hal yang sia-sia.
Di sekolah Ramadhan ini, kita juga diajarkan memahami bagaimana tidak enaknya lapar. Lapar yang merupakan sesuatu yang akrab dengan kalangan tak mampu dalam hal harta (fakir dan miskin). Dampak berlapar-lapar dalam puasa ini agar diri ini menyadari dampak langsung bagaimana kondisi orang lapar itu agar hati kita mudah tergerak untuk membantu sesama terutama orang miskin. Dengan cara inilah, kita diajarkan bagaimana indahnya berbagi itu. Kita diajarkan untuk menjadi insan yang suka berbuat kebajikan. "Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan" (QS. Al-Insan; 8).
Masih banyak lagi hikmah puasa Ramadhan. Keutamaan puasa ditinjauu dari segi kesehatan seperti dalam Hadist Rasulullah, "Berpuasalah agar kamu sehat". Namun jangan dijadikan alasan yang utama, menjadikan puasa untuk kesehatan fisik. Dengan dasar iman dan ikhlas kita berpuasa serta hanya mengharapkan ridha Allah dan pada saat yang sama berproses menuju sehat, Subhanallah! Jangan lupa mengisi ramadhan dengan amal ibadah pada Allah. Dengan memperbanyak shalat sunah, memperbanyak membaca Al-Qur'an, gemar sedekah, sebarkan salam dan kebaikan agar selepas ramadhan mendapatkan predikat bertaqwa.
Puasa ramadhan dapat memberikan kesehatan ruhani & jasmani. Dampak puasa bagi kesehatan antara lain:
- Memberikan kesempatan pada alat pencernaan untuk beristirahat. Makanan yang masuk dalam tubuh memerlukan proses pencernaan selama 8 jam. Setelah istirahat, efesiensi pencernaan meningkat dan daya serap tubuh jadi lebih baik.
- Membersihkan tubuh dari racun (faces, urin, CO2, keringat) yang merupakan sekresi berlebihan dari hasil metabolisme.
- Meningkatkan daya tahan tubuh. Mulai hari ke 7 berpuasa, sel-sel darah putih meningkat sehingga meningkatkan daya tahan tubuh.
- Menghambat makanan untuk bakteri, virus dan kanker sehingga sel kanker, bakteri dan virus tidak mendapatkan makanan yang cukup dan tidak dapat bertahan hidup dan akan keluar dari tubuh melalui sekresi dari tubuh.
- Memperbaiki fungsi hormon. Dalam berpuasa, orang akan bersikap sabar menahan amarah dan senantiasa berserah diri pada Allah. Hal ini akan mempengaruhi hormon untuk berjalan normal.
- Memperbaiki fungsi organ tubuh. Setelah bekerja terus menerus, di saat berpuasa ada kesempatan bagi sel-sel tubuh untuk memperbarui diri.
Kamis, 11 Agustus 2011
Memperbanyak shodaqoh di bulan ramadhan
Alhamdulillah, kita masih diberi kesempatan Allah untuk dapat menghirup udara di bulan suci ramadhan. Mumpung di bulan ramadhan, marilah kita memperbanyak melakukan amal ibadah. Marilah kita memperbanyak shodaqah di bulan ramadhan, seperti yang dicontohkan Nabi Muhammad. Rasulullah sebagai manusia paling dermawan di muka bumi ini. Beliau lebih demawan saat di bulan Ramadhan. Rasulullah menjadi lebih pemurah dengan lebih banyak shodaqoh dan kebaikan seperti angin yang berhembus dengan lembut. Nabi Muhammad bersabda, "Shadaqah yang paling utama adalah shadaqah pada bulan Ramadhan." (HR. al-Tirmidzi dari Anas)
Marilah kita memperbanyak amal ibadah, namun ikhlas karena Allah saja tanpa mengharapkan sanjungan dari manusia. Subhanallah, Allah telah memberikan banyak kemudahan dalam menjalan syariat islam. Termasuk kemudahan pada hambanya untuk bershodaqoh dengan banyak cara. Shodaqah tidak harus dengan uang dan harta. Banyak macam shodaqoh yang dapat kita kerjakan di bulan ramadhan ini. Hal ini dapat kita lihat dari Hadist Rasullullah, dari Abu Dzar rodhiallohu ‘anhu dia berkata: Ada sekelompok sahabat Rasulullah melapor, “Wahai Rasulullah orang-orang kaya telah memborong pahala. Mereka sholat sebagaimana kami sholat, mereka berpuasa sebagaimana kami puasa, namun mereka dapat bersedekah dengan kelebihan hartanya.” Beliau bersabda, “Bukankah Alloh telah menjadikan bagi kalian apa-apa yang dapat kalian sedekahkan? Sesungguhnya pada setiap tasbih ada sedekah, pada setiap tahmid ada sedekah dan pada setiap tahlil ada sedekah, menyuruh kebaikan adalah sedekah, melarang kemungkaran adalah sedekah, dan mendatangi istrimu juga sedekah.” Mereka bertanya. “Wahai Rasulullah, apakah jika seseorang memenuhi kebutuhan syahwatnya itu pun mendatangkan pahala?” Beliau bersabda, “Apa pendapatmu, bila ia menempatkan pada tempat yang haram, bukankah ia berdosa? Demikian pula bila ia menempatkan pada tempat yang halal, ia akan mendapatkan pahala”. (HR. Muslim)
Dengan bershodaqoh kita memberikan kebaikan kepada diri sendiri atau kepada orang lain. Dengan demikian shodaqoh memiliki makna yang luas, mencakup seluruh kebaikan dapat berupa perkataan atau perbuatan sehar-hari yang dapat kita kerjakan. Memang dalam Islam kita diberi banyak kemudahan dalam hal beribadah. Tak ada kata sulit dalam ibadah. Mumpung masih di bulan suci ini marilah kita memperbanyak shodaqoh di bulan ramadhan.
Marilah kita memperbanyak amal ibadah, namun ikhlas karena Allah saja tanpa mengharapkan sanjungan dari manusia. Subhanallah, Allah telah memberikan banyak kemudahan dalam menjalan syariat islam. Termasuk kemudahan pada hambanya untuk bershodaqoh dengan banyak cara. Shodaqah tidak harus dengan uang dan harta. Banyak macam shodaqoh yang dapat kita kerjakan di bulan ramadhan ini. Hal ini dapat kita lihat dari Hadist Rasullullah, dari Abu Dzar rodhiallohu ‘anhu dia berkata: Ada sekelompok sahabat Rasulullah melapor, “Wahai Rasulullah orang-orang kaya telah memborong pahala. Mereka sholat sebagaimana kami sholat, mereka berpuasa sebagaimana kami puasa, namun mereka dapat bersedekah dengan kelebihan hartanya.” Beliau bersabda, “Bukankah Alloh telah menjadikan bagi kalian apa-apa yang dapat kalian sedekahkan? Sesungguhnya pada setiap tasbih ada sedekah, pada setiap tahmid ada sedekah dan pada setiap tahlil ada sedekah, menyuruh kebaikan adalah sedekah, melarang kemungkaran adalah sedekah, dan mendatangi istrimu juga sedekah.” Mereka bertanya. “Wahai Rasulullah, apakah jika seseorang memenuhi kebutuhan syahwatnya itu pun mendatangkan pahala?” Beliau bersabda, “Apa pendapatmu, bila ia menempatkan pada tempat yang haram, bukankah ia berdosa? Demikian pula bila ia menempatkan pada tempat yang halal, ia akan mendapatkan pahala”. (HR. Muslim)
Dengan bershodaqoh kita memberikan kebaikan kepada diri sendiri atau kepada orang lain. Dengan demikian shodaqoh memiliki makna yang luas, mencakup seluruh kebaikan dapat berupa perkataan atau perbuatan sehar-hari yang dapat kita kerjakan. Memang dalam Islam kita diberi banyak kemudahan dalam hal beribadah. Tak ada kata sulit dalam ibadah. Mumpung masih di bulan suci ini marilah kita memperbanyak shodaqoh di bulan ramadhan.
Senin, 08 Agustus 2011
Belajar puasa pada anak - anak islam
Puasa ramadhan bagi orang dewasa mungkin hal yang biasa karena sudah terbiasa sejak kecil. Namun bagai manakah puasa pada anak-anak. Kita perlu memperkenalkannya dan memberi pelajaran pada mereka. Perlu perhatian yang serius dalam usaha dan upaya mendidik anak kita berpuasa di bulan suci ramadhan. Bagaimanakah belajar puasa pada anak-anak islam?
Menjelang ramadhan, lakukanlah pengkondisian dalam usaha menyambut bulan puasa. Berilah anak-anak pemahaman tentang apa itu puasa menurut Islam, pemahaman yang simple dan mudah dimengerti oleh anak kita. Berilah pengertian tentang keutamaan puasa ramadhan. Bila pengkondisian dilakukan berulang-ulang sejak sebelum ramadhan dann pada saat ramadhan, insya Allah sangat memungkinkan akan tumbuh niat ayng kuat pada diri anak untuk menjalankan puasa ramadhan.
Ajaklah anak-anak menyambut ramadhan dengan keceriaan. Rasulullah telah menasehati Abdullah bin Mas'ud untuk menyambut ramadhan dengan wajah berseri-seri. jika kita perluas makna keceriaan itu dapat juga dengan memberi warna yang khas pada rumah kita sehingga anak semakin menyadari akan istimewanya ramadhan.
Saat ramadhan tiba, aturlah waktu tidur anak-anak sehingga mudah dan bersemangat saat bangun untuk sahur. Waktu sahur sebaiknya diakhirkan agar anak masih kuat saat siang. sebagai mana sunnah rasulullah. Kondisikan di rumah agar jangan meletakkan makanan dan minuman secara terbuka saat siang hari. Sehingga menggoda anak untuk membatalkan puasa.
Bagi anak yang berlatih puasa (belum kuat dan gampang terpengaruh) sebaiknya mereka dijauhkan bermain dari anak lain yang malas dan tidak berpuasa. Karena hal ini akan berdampak kurang baik pada semangat berpuasa pada anak. Dekatkanlah dengan anak yang tekun dalam berlatih puasa.
Kondisi pada anak tidaklah sama. Tiap anak perlu melakukan adaptasi yang disesuaikan dengan umur. Mulai ajarkan kebiasaan puasa mulai usia 6 tahun, namun sejak balita (TK) anak perlu diberikan pengarahan apa itu puasa. Latihlah berpuasa pada anak secara bertahap. Misalkan, diawali dengan izin berbuka pada jam 10, lalu hari berikutnya pada pukul 12. Menginjak tahun berikutnya ajarkan anak puasa penuh sampai maghrib. Jika anak telah berhasil beri hadiah sebagai rangsangan untuk berlatih berpuasa. Pilih hadiah yang mendidik.
Rangsang dengan gambaran tentang pahala dan surga. Misalnya: jika kamu berpuasa, maka kamu ikut membuka pintu pahala bagi orang tuamu yang telah mendidikmu untuk berpuasa. Insya Allah, anak akan senang dan termotivasi karena sekaligus dapat berbuat kebaikan untuk orang tuanya.
Memberi alternatif pengisi waktu yang bermanfaat bagi anak. Bisa dengan meminta tidur siang atau memilihkan permainan yang mendidik atau bacaan kisah teladan dan buku bacaan yang mengandung unsur pendidikan Islam. Semua hal ini dilakukan agar anak lupa pada haus dan lapar.
Ajaklah anak-anak untuk meramaikan syair ramadhan, seperti shalat berjamaah di masjid, mengaji dan mengkaji Al-qur'an, menyimak ceramah agama, meminta anak-anak untuk mengantarkan ta'jil ke masjid, lebih menggemarkan shodaqah.
Jika hal diatas sudah diterapkan pada anak kita, Insya Allah keberkahan ramadhan akan turun ke setiap keluarga muslim. Semoga kita semua diberikan kemampuan oleh Allah sehingga keluarga kita termasuk yang mendapatkan keberkahan ramadhan. Semoga bermanfaat bagi kita semua, Amin.
Menjelang ramadhan, lakukanlah pengkondisian dalam usaha menyambut bulan puasa. Berilah anak-anak pemahaman tentang apa itu puasa menurut Islam, pemahaman yang simple dan mudah dimengerti oleh anak kita. Berilah pengertian tentang keutamaan puasa ramadhan. Bila pengkondisian dilakukan berulang-ulang sejak sebelum ramadhan dann pada saat ramadhan, insya Allah sangat memungkinkan akan tumbuh niat ayng kuat pada diri anak untuk menjalankan puasa ramadhan.
Ajaklah anak-anak menyambut ramadhan dengan keceriaan. Rasulullah telah menasehati Abdullah bin Mas'ud untuk menyambut ramadhan dengan wajah berseri-seri. jika kita perluas makna keceriaan itu dapat juga dengan memberi warna yang khas pada rumah kita sehingga anak semakin menyadari akan istimewanya ramadhan.
Saat ramadhan tiba, aturlah waktu tidur anak-anak sehingga mudah dan bersemangat saat bangun untuk sahur. Waktu sahur sebaiknya diakhirkan agar anak masih kuat saat siang. sebagai mana sunnah rasulullah. Kondisikan di rumah agar jangan meletakkan makanan dan minuman secara terbuka saat siang hari. Sehingga menggoda anak untuk membatalkan puasa.
Bagi anak yang berlatih puasa (belum kuat dan gampang terpengaruh) sebaiknya mereka dijauhkan bermain dari anak lain yang malas dan tidak berpuasa. Karena hal ini akan berdampak kurang baik pada semangat berpuasa pada anak. Dekatkanlah dengan anak yang tekun dalam berlatih puasa.
Kondisi pada anak tidaklah sama. Tiap anak perlu melakukan adaptasi yang disesuaikan dengan umur. Mulai ajarkan kebiasaan puasa mulai usia 6 tahun, namun sejak balita (TK) anak perlu diberikan pengarahan apa itu puasa. Latihlah berpuasa pada anak secara bertahap. Misalkan, diawali dengan izin berbuka pada jam 10, lalu hari berikutnya pada pukul 12. Menginjak tahun berikutnya ajarkan anak puasa penuh sampai maghrib. Jika anak telah berhasil beri hadiah sebagai rangsangan untuk berlatih berpuasa. Pilih hadiah yang mendidik.
Rangsang dengan gambaran tentang pahala dan surga. Misalnya: jika kamu berpuasa, maka kamu ikut membuka pintu pahala bagi orang tuamu yang telah mendidikmu untuk berpuasa. Insya Allah, anak akan senang dan termotivasi karena sekaligus dapat berbuat kebaikan untuk orang tuanya.
Memberi alternatif pengisi waktu yang bermanfaat bagi anak. Bisa dengan meminta tidur siang atau memilihkan permainan yang mendidik atau bacaan kisah teladan dan buku bacaan yang mengandung unsur pendidikan Islam. Semua hal ini dilakukan agar anak lupa pada haus dan lapar.
Ajaklah anak-anak untuk meramaikan syair ramadhan, seperti shalat berjamaah di masjid, mengaji dan mengkaji Al-qur'an, menyimak ceramah agama, meminta anak-anak untuk mengantarkan ta'jil ke masjid, lebih menggemarkan shodaqah.
Jika hal diatas sudah diterapkan pada anak kita, Insya Allah keberkahan ramadhan akan turun ke setiap keluarga muslim. Semoga kita semua diberikan kemampuan oleh Allah sehingga keluarga kita termasuk yang mendapatkan keberkahan ramadhan. Semoga bermanfaat bagi kita semua, Amin.
Kamis, 04 Agustus 2011
Keistimewaan Bulan Ramadhan
Alhamdulillah, kita sudah memasuki bulan ramadhan. Peluang untuk mencapai takwa tak boleh kita abaikan sebagai mana di bulan puasa tahun yang lalu. Puasa tahun lalu mungkin kurang baik pelaksanannya. Mari kita perbaiki amal ibadah puasa dan amal ibadah yang lain di tahun ini.
Kita harus mencontoh rasulullah, menyambut ramadhan dengan senang hati. Bergembiralah saat menyambut ramadhan. Sungguh tak ada kabar gembira yang paling ditunggu kecuali tibanya ramadhan, bulan penuh berkah dari Allah. Bahkan berbagai persiapan menyambutnya sudah harus kita lakukan seperti dengan memperbanyak puasa sunah di bulan Sya'ban.
Ramadhan adalah bulan istimewa. Simak saja kabar penting dari Rasulullah berdasarkan Hadist riwayat Ibnu Khuzaimah, Nabi Muhammad pernah berkutbah pada akhir sya'ban tentang keistimewaan Ibadah puasa Ramadhan, "Wahai manusia, bulan yang mulia dan penuh berkah datang menaungi kalian.Suatu bulan yang di dalamnya terdapat suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Bulan yang Allah telah menetapkan kewajiban puasa dan kesunahan qiyamul lail di dalamnya. Barang siapa mendekatkan diri kepada Allah dengan melakukan kebaikannya di dalamnya, maka dia bagaikan melakukan kewajiban di bulan lain. Barang siapa melakukan kewajiban di dalamnya, maka ia sama dengan orang yang melakukan tujuh puluh kewajiban di bulan lain. Ramadhan adalah bulan kesabaran dan pahala kesabaran adalah surga. Ia adalah bulan kedermawanan dan bulan bertambahnya rezeki bagi orang mukmin. Barang siapa memberikan makanan berbuka kepada orang yang berpuasa di bulan ini, maka itu berarti pengampunan terhadap dosa-dosanya dan pembebasan dirinya dari neraka serta mendapat pahala yang serupa dengan orang yang berpuasa tanpa berkurang sedikitpun."
Kemudian para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, tidak semua diantara kami memiliki makanan berbuka untuk orang lain". Rasulullah menjawab, "Allah memberikan pahala ini kepada siapapun yang memberi buka (puasa) dengan sebiji kurma, seteguk air atau sehirup susu. Dialah bulan yang permulaannya adalah rahmat, pertengahannya adalah ampunan dan akhirnya adalah pembebasan dari neraka. Barang siapa yang memberikan beban yang lebih ringan kepada pembantunya pada bulan ini, maka allah memberikan pengampunan dan pembebasannya dari api neraka".
"Dalam bulan ini perbanyaklah empat perkara: dua perkara yang kamu lakukan akan dapat mendatangkan keridhaan Tuhanmu dan du aperkara berikutnya adalah kebutuhanmu sendiri. Dua perkara pertama adalah syahadat bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan permohonan ampunan kepad aAllah. Sedangkan dua perkara berikutnya adalah memohon surga dan berlindung dari neraka. Barang siapa memberi minum kepada orang yang berpuasa, maka Allah akan memberinya minum dari telaga surga-Ku yang tidak akan merasakan haus lagi sesudahnya, sehingga dia masuk surga".
Kita harus mencontoh rasulullah, menyambut ramadhan dengan senang hati. Bergembiralah saat menyambut ramadhan. Sungguh tak ada kabar gembira yang paling ditunggu kecuali tibanya ramadhan, bulan penuh berkah dari Allah. Bahkan berbagai persiapan menyambutnya sudah harus kita lakukan seperti dengan memperbanyak puasa sunah di bulan Sya'ban.
Ramadhan adalah bulan istimewa. Simak saja kabar penting dari Rasulullah berdasarkan Hadist riwayat Ibnu Khuzaimah, Nabi Muhammad pernah berkutbah pada akhir sya'ban tentang keistimewaan Ibadah puasa Ramadhan, "Wahai manusia, bulan yang mulia dan penuh berkah datang menaungi kalian.Suatu bulan yang di dalamnya terdapat suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Bulan yang Allah telah menetapkan kewajiban puasa dan kesunahan qiyamul lail di dalamnya. Barang siapa mendekatkan diri kepada Allah dengan melakukan kebaikannya di dalamnya, maka dia bagaikan melakukan kewajiban di bulan lain. Barang siapa melakukan kewajiban di dalamnya, maka ia sama dengan orang yang melakukan tujuh puluh kewajiban di bulan lain. Ramadhan adalah bulan kesabaran dan pahala kesabaran adalah surga. Ia adalah bulan kedermawanan dan bulan bertambahnya rezeki bagi orang mukmin. Barang siapa memberikan makanan berbuka kepada orang yang berpuasa di bulan ini, maka itu berarti pengampunan terhadap dosa-dosanya dan pembebasan dirinya dari neraka serta mendapat pahala yang serupa dengan orang yang berpuasa tanpa berkurang sedikitpun."
Kemudian para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, tidak semua diantara kami memiliki makanan berbuka untuk orang lain". Rasulullah menjawab, "Allah memberikan pahala ini kepada siapapun yang memberi buka (puasa) dengan sebiji kurma, seteguk air atau sehirup susu. Dialah bulan yang permulaannya adalah rahmat, pertengahannya adalah ampunan dan akhirnya adalah pembebasan dari neraka. Barang siapa yang memberikan beban yang lebih ringan kepada pembantunya pada bulan ini, maka allah memberikan pengampunan dan pembebasannya dari api neraka".
"Dalam bulan ini perbanyaklah empat perkara: dua perkara yang kamu lakukan akan dapat mendatangkan keridhaan Tuhanmu dan du aperkara berikutnya adalah kebutuhanmu sendiri. Dua perkara pertama adalah syahadat bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan permohonan ampunan kepad aAllah. Sedangkan dua perkara berikutnya adalah memohon surga dan berlindung dari neraka. Barang siapa memberi minum kepada orang yang berpuasa, maka Allah akan memberinya minum dari telaga surga-Ku yang tidak akan merasakan haus lagi sesudahnya, sehingga dia masuk surga".
Senin, 01 Agustus 2011
10 hari pertama di bulan ramadhan
Subhannallah, kondisi masjid di malam pertama di bulan ramadhan sangat padat. Orang berbondong-bondong untuk memakmurkan masjid. Hal ini di karenakan tensi tinggi keimanan umat Islam dan euforia untuk menyongsong bulan pengampunan ini. Kondisi masjid pada 10 hari pertama mungkin masih ramai, sesak dan padat pengunjung. Namun bagaimanakah keadaan masjid pada hari berikutnya di malam ramadhan. Apalagi kondisi masjid di luar ramadhan. Umat islam jarang dan enggan untuk memakmurkan masjid.
Kondisi umat Islam di 10 hari pertama di bulan ramadhan masih diliputi keimanan yang tingi sehingga masih banyak yang melaksanakan puasa. Walaupun fase ini sangat sulit bagi beberapa orang. Biasanya udah kenyang pada siang hari namun kali ini harus menahan lapar disi siang hari.
Puasa di dalam amalan syariat Islam tidak hanya menahan lapar, menahan dahaga dan menahan syahwat. Perlu juga puasa lisan, puasa pendangaran dna puasa penglihatan serta tetap menjaga hati ini. Puasa model ini adalah puasa yang sulit. perlu perjuangan untuk meraihnya. Puasa adalah ibadah yang sangat istimewa di sisi Allah. Pada sebuah potongan hadist qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim menjelaskan keutamaan puasa. Dari Abu Hurairah ra., dia berkata: “Rasulullah bersabda: “Allah berfirman: Setiap amalan anak Adam adalah untuknya sendiri melainkan puasa, karena puasa adalah untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya…”
Amalan di bulan puasa ini dengan memperbanyak shalat sunah karena pahala yang didapat akan berlipat. Namun harus ikhlas karena Allah, janganlah pahala yang jadi target tapi proses pembelajaran diri untuk melaksanakan sariat islam dengan melaksanakan shalat sunah. Setelah shalat iringi dengan memperbanyak do'a dan membaca Al-qur'an. Memperbanyak shodaqah, dengan banyak cara. Serta memberi takjil bagi orang yang berbuka. Pahala nya sama seperti orang yang melakukan puasa 1 hari.
Kondisi umat Islam di 10 hari pertama di bulan ramadhan masih diliputi keimanan yang tingi sehingga masih banyak yang melaksanakan puasa. Walaupun fase ini sangat sulit bagi beberapa orang. Biasanya udah kenyang pada siang hari namun kali ini harus menahan lapar disi siang hari.
Puasa di dalam amalan syariat Islam tidak hanya menahan lapar, menahan dahaga dan menahan syahwat. Perlu juga puasa lisan, puasa pendangaran dna puasa penglihatan serta tetap menjaga hati ini. Puasa model ini adalah puasa yang sulit. perlu perjuangan untuk meraihnya. Puasa adalah ibadah yang sangat istimewa di sisi Allah. Pada sebuah potongan hadist qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim menjelaskan keutamaan puasa. Dari Abu Hurairah ra., dia berkata: “Rasulullah bersabda: “Allah berfirman: Setiap amalan anak Adam adalah untuknya sendiri melainkan puasa, karena puasa adalah untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya…”
Amalan di bulan puasa ini dengan memperbanyak shalat sunah karena pahala yang didapat akan berlipat. Namun harus ikhlas karena Allah, janganlah pahala yang jadi target tapi proses pembelajaran diri untuk melaksanakan sariat islam dengan melaksanakan shalat sunah. Setelah shalat iringi dengan memperbanyak do'a dan membaca Al-qur'an. Memperbanyak shodaqah, dengan banyak cara. Serta memberi takjil bagi orang yang berbuka. Pahala nya sama seperti orang yang melakukan puasa 1 hari.
Selasa, 26 Juli 2011
Persiapan menyambut bulan ramadhan di bulan sya'ban
Dalam rangka menyambut datangnya bulan suci ramadhan di bulan sya'ban tahun ini. Kita sebagi muslim yang bertakwa perlu mempersiapkan fisik diri dan hati/qalbu. Persiapan fisik dengan menjaga kesehatan. Persiapan hati dengan cara memperbanyak ilmu fiqh mengenai puasa ramadhan dengan menambah ilmu. Sehingga kita dapat mengetahui beberapa rangkaian amal ibadah dalam rangkaian kegiatan amal ibadah di bulan ramadhan.
Dalam persiapan puasa perlu kita perbaiki diri sendiri dengan menata hati dan melatih melakukan amal ibadah yang sunah. Namun juga perlu di perhatikan, masih adakah tanggungan hutang puasa di tahun yang lalu yang belum dikerjakan.Terutama bagi wanita dan orang sakit di bulan ramadhan tahun yang lalu. Bagi pria yang sehat jasmani dan ruhani jangan sekali-kali mencoba untuk membatalkan puasa di bulan ramadhan karena tidak ada cara dispensasi untuk menggantinya alias dosa besar.
Amalan ibadah untuk menyambut bulan ramadhan dengan memperbanyak puasa sunah yang lain di luar bulan ramadhan.Terutama memperbanyak amal ibadah puasa sunah di bulan sya'ban. Puasa di bulan sya'ban tidak ada ketentuan hari dan tanggal. Kita dapat meningkatkan amalan puasa dengan puasa senin-kamis atau jika dirasa kurang dapat mengerjakan puasa daud yakni sehari puasa sehari tidak puasa.
Hadist rasulullah, "Dari Aisyah ra, dia berkata: Adalah rasulullah saw berpuasa sehingga kami berkata (beliu) tidak pernah tidak puasa, dan beliau tidak puasa sehingga kami berkata beliau tidak puasa dan tidaklah aku melihat beliau (rasulullah) sempurna puasa sebulan penuh kecuali Ramadhan dan tidaklah aku melihat beliau puasa dalam bulan yang lebih banyak puasanya (sebagaimana) dalam bulan sya'ban" (Mutafaq alaih).
Dari hadist ini kita disunahkan memperbanyak amalan puasa sunah di bulan sya'ban. Dalam syariat islam, puasa sunah bukanlah di bulan rajab seperti yang dilakukan masyarakat. Puasa di bulan rajab tidak ada tuntunannya dari Nabi Muhammad, hadist yang dipakai untuk puasa rajab adalah hadist doif. Marilah kita isi tiap hari dengan ibadah yang sesuai dengan Syariat Islam. Melakukan ibadah yang sesuai dengan tuntunan dari Allah SWT dan dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. Ayo perbanyak puasa sunah di bulan sya'ban
Dalam persiapan puasa perlu kita perbaiki diri sendiri dengan menata hati dan melatih melakukan amal ibadah yang sunah. Namun juga perlu di perhatikan, masih adakah tanggungan hutang puasa di tahun yang lalu yang belum dikerjakan.Terutama bagi wanita dan orang sakit di bulan ramadhan tahun yang lalu. Bagi pria yang sehat jasmani dan ruhani jangan sekali-kali mencoba untuk membatalkan puasa di bulan ramadhan karena tidak ada cara dispensasi untuk menggantinya alias dosa besar.
Amalan ibadah untuk menyambut bulan ramadhan dengan memperbanyak puasa sunah yang lain di luar bulan ramadhan.Terutama memperbanyak amal ibadah puasa sunah di bulan sya'ban. Puasa di bulan sya'ban tidak ada ketentuan hari dan tanggal. Kita dapat meningkatkan amalan puasa dengan puasa senin-kamis atau jika dirasa kurang dapat mengerjakan puasa daud yakni sehari puasa sehari tidak puasa.
Hadist rasulullah, "Dari Aisyah ra, dia berkata: Adalah rasulullah saw berpuasa sehingga kami berkata (beliu) tidak pernah tidak puasa, dan beliau tidak puasa sehingga kami berkata beliau tidak puasa dan tidaklah aku melihat beliau (rasulullah) sempurna puasa sebulan penuh kecuali Ramadhan dan tidaklah aku melihat beliau puasa dalam bulan yang lebih banyak puasanya (sebagaimana) dalam bulan sya'ban" (Mutafaq alaih).
Dari hadist ini kita disunahkan memperbanyak amalan puasa sunah di bulan sya'ban. Dalam syariat islam, puasa sunah bukanlah di bulan rajab seperti yang dilakukan masyarakat. Puasa di bulan rajab tidak ada tuntunannya dari Nabi Muhammad, hadist yang dipakai untuk puasa rajab adalah hadist doif. Marilah kita isi tiap hari dengan ibadah yang sesuai dengan Syariat Islam. Melakukan ibadah yang sesuai dengan tuntunan dari Allah SWT dan dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. Ayo perbanyak puasa sunah di bulan sya'ban
Kamis, 30 September 2010
Real game! melaksanakan mutiara hikmah ramadhan
Bulan ramadhan telah berlalu. This time, real game! Sekarang waktunya melaksanakan mutiara hikmah ramadhan di sebelas bulan yang lain. Training satu bulan telah selesai dan hiruk pikuk ibadah telah berlalu, semoga amal ibadah kita diterima Allah serta semoga kita dipertemukan dengan ramadhan tahun depan. Walaupun bulan suci berlalu beberapa minggu yang lalu namun rindu rasa hati ini untuk bertemu kembali dengan ramadhan. Selepas bulan ramadhan, haruskah kita mengurangi kadar dan kualitas ibadah kita atau bahkan menghentikan beribadah (semoga Allah menjauhkan kita dari hal yang terakhir ini). Bagaimanakah sikap dan tindak tanduk kita sebagai orang yang mengaku muslim diluar bulan ramadhan?
11 bulan lain di luar bulan ramadan merupakan real game, ya... seharusnya ungkapan ini yang selalu terpatri didalam qolbu tiap orang yang bertakwa. Seorang atlit saja sebelum bertanding dalam suatu kancah kejuaraan selalu melakukan training ataupun pusat pelatihan selama beberapa hari agar menjadi hebat dan juara. Demikian halnya dengan setiap orang bertakwa yang juga mengalami masa training yakni di bulan ramadhan agar dapat melaksanakannya di luar bulan ramadhan. Orang bertakwa selalu mendapatkan dan menjalankan mutiara hikma bulan ramadhan, mutiara hikma ramadhan antara lain:
11 bulan lain di luar bulan ramadan merupakan real game, ya... seharusnya ungkapan ini yang selalu terpatri didalam qolbu tiap orang yang bertakwa. Seorang atlit saja sebelum bertanding dalam suatu kancah kejuaraan selalu melakukan training ataupun pusat pelatihan selama beberapa hari agar menjadi hebat dan juara. Demikian halnya dengan setiap orang bertakwa yang juga mengalami masa training yakni di bulan ramadhan agar dapat melaksanakannya di luar bulan ramadhan. Orang bertakwa selalu mendapatkan dan menjalankan mutiara hikma bulan ramadhan, mutiara hikma ramadhan antara lain:
- Tetap menjaga shalat lima waktu diawal waktu (bagi pria diwajibkan berjamaah di masjid)
- Tetap menjaga shalat malam walaupun 1 rakaat (witir) serta menjaga shalat sunah yang lain
- Tetap menjaga membaca serta mempelajari Al-qur'an dan berusaha mengamalkannya
- Tetap menjaga puasa sunah yang lain terutama puasa syawal. Karena puasa ini masih terimbas puasa ramadhan. Hal ini diperkuat dengan adanya hadist rasulullah yang menyatakan bahwa barang siapa berpuasa dibulan ramadhan kemudian dilanjutkan dengan 6 hari dibulan syawal maka dia akan mendapatkan pahala puasa selama satu tahun penuh.
- Tetap menjaga makna saum, yakni menahan dari kegiatan yang buruk, gibah, namimah dan berkata yang buruk.
- Tetap menjaga rasa berbagi dengan sesama serta bersilaturahim.
- Tetap menjaga infaq, sadaqoh dan zakat.
Selasa, 31 Agustus 2010
Al Qur’an sebagai sumber solusi bagi manusia
Saat ini sudah memasuki penghujung ramadhan tepatnya di sepuluh hari terakhir. Seorang muslim hendaknya meyakini bahwa di antara malam Ramadhan itu akan hadir Lailatul Qadar. Malam yang dirindukan kaum muslim di penjuru dunia karena memiliki nilai keutamaannya yang setara dengan seribu bulan. Disamping itu, pada malam Lailatul Qadar ini pula Al-Quran pertama kali diturunkan oleh Allah SWT dari Lauhil Mahfuzh ke Baitul ‘Izzah di Langit Dunia. Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya Kami menurunkan al-Quran pada Lailatul Qadar. Apakah Lailatul Qadar itu? Lailatul Qadar itu lebih baik nilainya dari seribu bulan" (QS. Al-Qadar [97]: 1-3).
Allah SWT berfirman: "Bulan Ramadhan, itulah bulan yang di dalamnya al-Quran diturunkan, sebagai petunjuk (bagi manusia), penjelasan atas petunjuk itu serta sebagai pembeda". (QS Al-Baqarah [2]: 185). Ayat ini menyatakan dengan tegas bahwa al-Quran yang diturunkan oleh Allah SWT berfungsi sebagai hud[an], bayyinat dan furq[an]. Maknanya, al-Quran adalah petunjuk bagi manusia; memberikan penjelasan tentang mana yang halal dan mana yang haram, juga tentang berbagai hudud dan hukum-hukum Allah SWT; serta pembeda mana yang haq dan mana yang batil (Lihat: al-Baidhawi/I/220; Ibn Abi Salam, I/154; an-Nasisaburi, I/48; As-Suyuthi, I/381).
Lebih tegas dinyatakan oleh Abu Bakar al-Jazairi dalam Aysar at-Tafasir, saat menafsirkan potongan ayat di atas, bahwa al-Quran merupakan petunjuk bagi manusia yang bisa mengantarkan mereka untuk meraih kesempurnaan dan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Maknanya, al-Quran turun dalam rangka: (1) memberi manusia petunjuk; (2) menjelaskan kepada mereka jalan petunjuk itu; (3) menerangkan jalan kebahagiaan dan kesuksesan mereka; (4) memandu mereka agar bisa membedakan mana yang haq dan mana yang batil dalam seluruh urusan kehidupan mereka (Al-Jazairi, I/82).
Dengan memahami maksud ayat di atas, jelas harus dikatakan bahwa al-Quran sesungguhnya sumber solusi bagi setiap persoalan hidup yang dihadapi manusia. Hal ini juga ditegaskan dalam ayat berikut: "Kami telah menurunkan kepadamu (Muhammad) al-Quran sebagai penjelas segala sesuatu; juga sebagai petunjuk, rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang Muslim". (QS an-Nahl [16]: 89).
Menurut Al-Jazairi (II/84), frasa tibyan[an] li kulli syay[in] bermakna: menjelaskan segala sesuatu yang dibutuhkan oleh umat (Al-Jazairi, II/84). Ayat di atas juga menegaskan bahwa al-Quran merupakan petunjuk (hud[an]), rahmat (rahmat[an]) dan sumber kegembiraan (busyra) bagi umat.
Namun sangat disayangkan, walaupun Allah SWT secara tegas menyatakan al-Quran sebagai sumber solusi. ironinya kebanyakan kaum muslim saat ini mengabaikan penegasan Allah SWT ini. Buktinya, hingga saat ini al-Quran tidak dijadikan rujukan oleh umat, khususnya para penguasa dan elit politiknya, untuk memecahkan berbagai persoalan hidup yang mereka hadapi. Padahal jelas, umat ini, khususnya di negeri ini, sudah lama dilanda berbagai krisis: krisis keyakinan (misal: munculnya banyak aliran sesat), krisis akhlak (munculnya banyak kasus pornografi/pornoaksi, perselingkuhan/perzinaan, dll), krisis ekonomi (kemiskinan, pengangguran, dll) krisis politik (carut-marut Pemilu & pilkada, separatisme, dll), krisis sosial, krisis pendidikan, krisis hukum, dll. Semua ini tentu membutuhkan solusi yang pasti, tuntas dan segera.
Memang, para penguasa dan elit politik negeri ini bukan tidak berusaha mencari solusi. Namun, solusi yang mereka gunakan alih-alih mampu mengatasi berbagai krisis tersebut, tetapi malah memperpanjang krisis dan menambah krisis baru. Ini karena solusi yang dipakai selalu merujuk pada ideologi sekular, yakni Kapitalisme. Untuk mengatasi krisis keyakinan, misalnya, mereka malah mengembangkan pluralisme. Untuk mengatasi krisis ekonomi, mereka mengembangkan ekonomi yang makin liberal antara lain dengan mengembangkan program privatisasi (penjualan aset-aset negara), terus menumpuk utang luar negeri yang berbunga tinggi, menyerahkan pengelolaan (baca: penguasaan) berbagai sumberdaya alam (SDA) kepada swasta/pihak asing, menyerahkan harga barang-barang milik rakyat (BBM, listrik, gas, bahkan air) kepada mekanisme pasar, dll. Akibatnya, kemiskinan dan pengangguran justru makin meningkat, dan krisis ekonomi makin parah.
Untuk mengatasi krisis politik mereka terus mengembangkan demokrasi yang justru menjadi akar persoalan politik. Untuk mengatasi krisis pendidikan mereka malah terus melakukan sekularisasi dan ‘kapitalisasi’ pendidikan. Akibatnya, sudahlah mahal, pendidikan tidak menghasilkan generasi beriman dan bertakwa serta berkualitas.
Lalu untuk mengatasi krisis hukum dan keadilan mereka malah memproduksi hukum buatan sendiri yang sarat dengan kepentingan para pembuatnya. Demikian seterusnya. Akibatnya, berbagai krisis tersebut bukan malah teratasi, tetapi malah makin menjadi-jadi. Semua itu jelas, karena mereka benar-benar telah mengabaikan al-Quran sama sekali. Seharusnya kita kembali ke Al Qur’an sebagai sumber solusi bagi manusia, dengan mempelajari dan mengamalkannya.
Dengan memahami maksud ayat di atas, jelas harus dikatakan bahwa al-Quran sesungguhnya sumber solusi bagi setiap persoalan hidup yang dihadapi manusia. Hal ini juga ditegaskan dalam ayat berikut: "Kami telah menurunkan kepadamu (Muhammad) al-Quran sebagai penjelas segala sesuatu; juga sebagai petunjuk, rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang Muslim". (QS an-Nahl [16]: 89).
Menurut Al-Jazairi (II/84), frasa tibyan[an] li kulli syay[in] bermakna: menjelaskan segala sesuatu yang dibutuhkan oleh umat (Al-Jazairi, II/84). Ayat di atas juga menegaskan bahwa al-Quran merupakan petunjuk (hud[an]), rahmat (rahmat[an]) dan sumber kegembiraan (busyra) bagi umat.
Namun sangat disayangkan, walaupun Allah SWT secara tegas menyatakan al-Quran sebagai sumber solusi. ironinya kebanyakan kaum muslim saat ini mengabaikan penegasan Allah SWT ini. Buktinya, hingga saat ini al-Quran tidak dijadikan rujukan oleh umat, khususnya para penguasa dan elit politiknya, untuk memecahkan berbagai persoalan hidup yang mereka hadapi. Padahal jelas, umat ini, khususnya di negeri ini, sudah lama dilanda berbagai krisis: krisis keyakinan (misal: munculnya banyak aliran sesat), krisis akhlak (munculnya banyak kasus pornografi/pornoaksi, perselingkuhan/perzinaan, dll), krisis ekonomi (kemiskinan, pengangguran, dll) krisis politik (carut-marut Pemilu & pilkada, separatisme, dll), krisis sosial, krisis pendidikan, krisis hukum, dll. Semua ini tentu membutuhkan solusi yang pasti, tuntas dan segera.
Memang, para penguasa dan elit politik negeri ini bukan tidak berusaha mencari solusi. Namun, solusi yang mereka gunakan alih-alih mampu mengatasi berbagai krisis tersebut, tetapi malah memperpanjang krisis dan menambah krisis baru. Ini karena solusi yang dipakai selalu merujuk pada ideologi sekular, yakni Kapitalisme. Untuk mengatasi krisis keyakinan, misalnya, mereka malah mengembangkan pluralisme. Untuk mengatasi krisis ekonomi, mereka mengembangkan ekonomi yang makin liberal antara lain dengan mengembangkan program privatisasi (penjualan aset-aset negara), terus menumpuk utang luar negeri yang berbunga tinggi, menyerahkan pengelolaan (baca: penguasaan) berbagai sumberdaya alam (SDA) kepada swasta/pihak asing, menyerahkan harga barang-barang milik rakyat (BBM, listrik, gas, bahkan air) kepada mekanisme pasar, dll. Akibatnya, kemiskinan dan pengangguran justru makin meningkat, dan krisis ekonomi makin parah.
Untuk mengatasi krisis politik mereka terus mengembangkan demokrasi yang justru menjadi akar persoalan politik. Untuk mengatasi krisis pendidikan mereka malah terus melakukan sekularisasi dan ‘kapitalisasi’ pendidikan. Akibatnya, sudahlah mahal, pendidikan tidak menghasilkan generasi beriman dan bertakwa serta berkualitas.
Lalu untuk mengatasi krisis hukum dan keadilan mereka malah memproduksi hukum buatan sendiri yang sarat dengan kepentingan para pembuatnya. Demikian seterusnya. Akibatnya, berbagai krisis tersebut bukan malah teratasi, tetapi malah makin menjadi-jadi. Semua itu jelas, karena mereka benar-benar telah mengabaikan al-Quran sama sekali. Seharusnya kita kembali ke Al Qur’an sebagai sumber solusi bagi manusia, dengan mempelajari dan mengamalkannya.
Rabu, 18 Agustus 2010
Tema religi, laris di bulan ramadhan
Ramadhan selalu datang tiap tahunnya dalam kehidupan orang muslim. Bulan yang mulia ini memang luar biasa. Semua orang menyambutnya dengan berbagai cara. Ada yang mennganggap ramadhan sebagai waktu yang sakral, mereka manyambutnya ritual-ritual kuno yang katanya sarat makna. Pada tiap ramadhan, para penyanyi menjadikan momentum ramadhan sebagai waktu yang tepat untuk menunjukkan eksistensinya.
Untuk para nasyied, bulan ini akan menjadi "berkah" bagi mereka karena lagu merekaakam dipilih dalam playlist pemutar musik. Sedangkan para penyanyi solo dan band-band yang masih eksis mereka mulai ikutan banting setir dengan mengubah tema lirik lagunya agar bertema islami seperti taubat memuji ramadhan atau sanjungan pada "tuhan". Ya, mereka lebih suka mengucapkan tuhan dari pada kata "Allah". Akibatnya kita sering kesulitan membedakan apakah ini lagu islami atau nyanyian gereja? akhirnya mereka menamainya dengan album religi.
Tak perlu pusing soal profil diri penyanyinya (ini merupakan dampak dari industri musik, enak dikuping ya akan laku dipasar). Seperti apapun tingkah laku si penyanyi di luar ramadhan, lagu mereka tetap digandrungi. Walaupun latar belakang mereka suka mabuk, gonta-ganti pasangan tanpa status pernikahan, perceraian, perselingkuhan, kebiasaan memamerkan aurat dan gaya hidup yang tak islami. Percayalah hal itu tak akan digubris oleh para penikmat lagu.
Untuk para nasyied, bulan ini akan menjadi "berkah" bagi mereka karena lagu merekaakam dipilih dalam playlist pemutar musik. Sedangkan para penyanyi solo dan band-band yang masih eksis mereka mulai ikutan banting setir dengan mengubah tema lirik lagunya agar bertema islami seperti taubat memuji ramadhan atau sanjungan pada "tuhan". Ya, mereka lebih suka mengucapkan tuhan dari pada kata "Allah". Akibatnya kita sering kesulitan membedakan apakah ini lagu islami atau nyanyian gereja? akhirnya mereka menamainya dengan album religi.
Tak perlu pusing soal profil diri penyanyinya (ini merupakan dampak dari industri musik, enak dikuping ya akan laku dipasar). Seperti apapun tingkah laku si penyanyi di luar ramadhan, lagu mereka tetap digandrungi. Walaupun latar belakang mereka suka mabuk, gonta-ganti pasangan tanpa status pernikahan, perceraian, perselingkuhan, kebiasaan memamerkan aurat dan gaya hidup yang tak islami. Percayalah hal itu tak akan digubris oleh para penikmat lagu.
Para produsen sinetron dan film telah menyiapkan berbagai macam tema religi. Tak sulit membuat sinetron religi, Ganti saja judulnya dengan hal yang berbau islam ataupun dengan melbatkan artis yang biasa berjilbab serta bisa juga dengna hanya menambahkan adegan shalat dan rintihan do'a dalam pikiran saat terkena musibah atau di dzhalimi tokoh antagonis. Itu saja sudah cukup, tak perlu harus mengkonsep yang sarat makna dan dakwah silam. Mungkin hal terakhir ini dilakukan akan membuat sinetron yang ngak laku dipasran dan memicu polemik di masyarakat.
Ramadhan adalah saat sale bagi para pedagang ritel, operator seluler, perusahaan obat, makanan dan minuman. Berbagai paket promosi, paket religi dan undian untuk meningkatkan omset penjualan. Bahkan bandar judi juga ikut meramaikan ramadhan dengn menggelar sayembara judi "islami", judi sms yang dikemas dengan hal berbagu religi untukmenghilangkan kesan judinya. Akibatnya tak sedikit kaum muslim berjudi sambil menunggu saat berbuka dan waktu sahur.
Bagaimanakah dengan kita? Dengan apa kita mengisi hari-hari ramadhan kita, dengan mengkoleksi lagu religi di Hp untuk diputar saat berkendara atau memilih salah satu sinetron realigi atau berusaha memborong promo ramadhan untuk hari raya dan sebagai bekal mudik lebaran.
Subhanallah, mestinya kita memborong dan mengikuti promo serta penawaran bonus yang membanjir namun tidak dari manusia tapi dari Allah sebagai Rabbul alammin. Kita juga akan melihat sinetron namun bukan sinetron TV tapi mereview film dokumenter yang pemainnya kita sendiri. Kita review kehidupan masa lalu kita dalam ruang muhasabah (mengkoreksi diri sendiri). Kita juga melantunkan dan mendengarkan lantunan namun bukan lagu religi yang lagi trend tapi kita melagukan kalam ilahi, kita baca ayat-ayat Al-Quran. Bukannkah demikian yang seharusnya kita lakukan dalam mengisi hari-hari dalam bulan Ramadhan? Insya Allah kita tetap istiqomah di jalan Allah.
Langganan:
Postingan (Atom)

